Model Pengembangan Kurikulum Pai


Pendahuluan

Pengembangan kurikulum adalah hal yang harus dilakukan oleh setiap sekolah/lembaga pendidikan, hal ini bertujuan agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal. Hal tersebut sesuai denagan pernyataan Dirjen Diknas Depdiknas Indra Jati Sidi,

“Sekolah tidak dilarang untuk mengembangkan kurikulum sendiri. Dalam kaitan ini, sekolah seharusnya lebih kreatif mengembangkan kurikulum yang bermanfaat bagi peserta didik, tanpa harus menunggu petunjuk dari pemerintah. Hanya saja pengembangan itu harus tetap berdasarkan pada desain kurikulum nasional”.

Kebebasan sekolah untuk mengembangkan kurikulum sebagaimana yang telah dilontarkan oleh Dirjen Diknas Depdiknas Indra Jati Sidi, sebenarnya merupakan peluang sekaligus tantangan bagi pelaku pendidik terutama bagi kepala sekolah dalam birokrat pendidikan yang terkait

Pendidikan merupakan suatu hal yang harus diindahkan oleh setiap insan  bila dia ingin mencapai kesuksesan dan kebahagian baik di dunia maupun di akhirat. Hal tersebut sejalan dengan hadits Rasulullah SAW yang berbunyi sebagai berikut:

مَنْ اَرَادَ الدُّ نْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَََََمَنْ اَرَادَ اْلأ خِرََةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ وَمَنْ اَرَادَ هُمَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ. (الحديث)

Artinya: barang siapa yang menginginkan dunia (kebahagiaan hidup di dunia), maka hendaklah ia menguasai ilmunya, dan barang siapa menghendaki akherat (kebahagiaan hidup di akhirat), hendaklah ia menguaisai ilmunya, dan barang siapa menghendaki keduanya, maka hendaklah ia mengusai ilmu keduanya. (Hadits Nabi).

Tidak berlebihan banyak kalangan masyarakat yang menganggap madrasah adalah sebuah wadah penampung segala harapan hidup dan masa depan mereka, lebih-lebih dalam menghadapi era globalisasi yang semakin membrutal. Hal ini dikarena masyarakat saaat ini menganggap bahwa pendidikan agama Islam merupakan jalan penopang ambruknya akhlak masyarakat. Sehingga banyak kalangan memberi gelar bahwa madrasah merupakan pendidikan yang bernafaskan keislaman. Di dalam A. Malik Fadjar juga disebutkan bahwa (Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan Aliyah) merupakan sekolah umum yang berciri khas Islam dan menjadi bagian keseluruhan system pendidikan nasional di negara kita[1]. Dengan adanya madrasah ditengah-tengah masyarakat maka madrasah harus bisa menempatkan diri dan mampu bersosialisasi dengan perkembangan lingkungan yang berjiwa positif serta dapat menjawab porsoalan-porsalan yang ada.

Lantas dari hal ihwal  di atas mampukah madrasah berubah di tengah sekelumit masalah yang ditimpakan kepadanya? Sebagai bagian dari lembaga pendidikan Islam, madrasah seharusnya mampu menyesuaikan dengan tuntutan kehidupan era global.  Maka salah satu cara yang harus dilakukan adalah melakukan adaptasi kurikulum. Karena tanpa adanya upaya adaptasi kurikulum, maka madrasah tersebut bisa dipastikan akan tertinggal jauh dari masanya. Hal ini sejalan dengan pendapat Anik Gufron yang menyatakan bahwa "Tanpa upaya adaptasi kurikulum, maka sekolah madrasah ataupun lembaga pendidikan Islam lainnya akan sulit berkembang menjadi sekolah unggulan," Anik Gufron, pakar kurikulum Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Jogyakarta (UNJ).




            Menurut Anik Gufron, sebenarnya tidak terlalu sulit bagi sejumlah praktisi pendidikan untuk mengembangkan kurikulum manakala bentuk kehidupan era global itu sudah nyata. Yang sukar adalah memprediksi gambaran kehidupan masa depan yang belum jelas. Karena itu, untuk dapat merancang dan mengembangkan kurikulum yang adaptable dengan kehidupan di era global, terlebih dulu harus memahami berbagai kecenderungan yang menjadi ciri pokok kehidupan di era global[3].

Untuk mensukseskan PAI, maka harus ada pengontrol yang konsisten disegala aspek, baik itu aspek lembaga, komponen-komponen pendidikan maupun yang lainnya. Pporsi PAI lebih kepada lembaga pendidikan madrasah. Untuk itu madrasah harus lebih ketat pembinaan PAI dibandingkan dengan sekolah umum.

Dalam perkembangan pemikiran dewasa ini pendidikan adalah sesuatu yang sangat vital atau urgen, karena dengan adanya IMTAQ dan IPTEK maka perjalan kehidupan akan teratur sesuai dengan irama zaman. Sehubungan dengan itu maka madrasah harus bisa mempersiap diri lebih rapi, sehingga apa yang menjadi harapan masyarakat akan bisa terwujud. Karena bagaimanapun madrasah merupakan pendidikan yang berbasis masyarakat.

Dalam mengatasi masalah persoalan yang semakin kompleks ini maka madrasah sekali lagi perlu melihat kedepan, dalam artian kurikulum yang dianggap sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman perlu adanya perobahan model kurikulum secara sungguh-sungguh. Tetapi model perkembangan kurikulum yang coba dikembangkan tidak boleh lepas dari ketetapan pemerintah yang jugak terdapat dalam GBHN

Model pengembangan kurikulum PAI harus betul-betul diperhatikan, lebih-lebih dalam aplikasinya ketika proses belajar mengajar berlangsung. Selama ini paham dari kebanyakan masyarakat menganggap bahwa dengan kehadiran PAI disekolah diharapkan mampu membinak keilmuan baik dari segi IPTEK maupun IMTAK peserta didika. Anggapan seperti ini harulah benar-benar diperhatikan karena kalau tidak akan berakibat patal. Kita tahu pada saat sekarang ini peran PAI bukan hanya sekedar mengutamakan pendidikan agama saja tetapi lebih diharapkan ada perpaduan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama.

Muhaimin menyatakan bahwa kurikulum madrasah perlu dikembangkan secara terpadu, dengan menjadikan ajaran dan nilai-nilai Islam sebagai petunjuk dan sumber konsultasi bagi pengembangan berbagai mata pelajaran umum, yang operasionalnya dapat dikembangkan dengan cara mengimplisitkan ajaran dan nilai-nilai Islam kedalam bidang studi IPS, IPA dan sebagainya, sehingga kesan dikotomis tidak terjadi. Model pembelajaran bisa dilaksanakan melalui team teacing, yakni guru bidang IPS, IPA atau lainnya bekerja sama dengan guru pendidikan agama Islam untuk menyusun desain pembelajaran secara konkret dan detail, untuk diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran.

            Disinilah bahwa seorang pengembang kurikulum mempunyai peran yang sangat penting dalam model pembelajaran dan model-model pengembangan kurikulum yang cocok untuk pengembangan madrasah, dari itu permasalah ini sangat menarik untuk diteliti.





Model Pengembangan Kurikulum PAI
Di dalam teori kurikulum setidak-tidaknya terdapat 4 pendekatan dalam pengembangan kurikulum di antaranya, yaitu: pendekatan subyek akademik; pendekatan humanistik; pendekatan teknologi; dan pendekatan rekonstruksi sosial.
a. Model Pengembangan Kurikulum melalui Pendekatan Subjek Akademis
Pendekatan ini adalah pendekatan yang tertua, sejak sekolah yang pertama berdiri kurikulumnya mirip dengan tipe ini. Pendekatan subyek akademik dalam menyususn kurikulum atau program pendidikan didasarkan pada sistematisasi disiplin ilmu masing-masing. Setiap ilmu pengetahuan memiliki sistematisasi tertentu yang berbeda dengan sistematisasi ilmu lainnya. Pengembangan kurikulum subyek akademik dilakukan dengan cara menetapkan lebih dulu mata pelajaran/mata kuliah apa yang harus dipelajari peserta didik, yang diperlukan untuk (persiapan) pengembangan disiplin ilmu. Tujuan kurikulum subyek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses penelititan.
b. Model Pengembangan Kurikulum Melalui Pendekatan Humanistik
Pendekatan Humanistik dalam pengembangan kurikulum bertolah dari ide memanusiakan manusia. Penciptaan jkonteks yang memberi peluang manusia untuk menjadi lebih human, untuk mempertinggi harkat manusia merupakan dasar filosofi, dasar teori, dasar evaluasi dan dasar pengmbangan program pendidikan.
Kurikulum pada pendekatan ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1) Partisipasi, kurikulum ini menekankan partisipasi murid dalam belajar. Kegiatan belajar adalah belajar bersama, melalui berbagai bentuk aktivitas kelompok. Melalui vartisivasi kegiatan bersama, murid-murid dapat mengadakan perundingan, persetujuan, pertukaran kemampuan, bertanggung jawab bersama, dan lain-lain. Ini menunjukkan cirri yang non- otoriter
2) Intergrasi, melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok terjadi interaksi, interpenetrasi, dan integrasidari pemikiran, dan juga tindakan.
3) Relevansi, isi pendidikan relevan dengan kebutuhan, minat dan kebutuhan muridkarena diambil dari dunia murid oleh murid sendiri.
4) Pribadi anak, pendidikan ini memberikan tempat utama pada pribadian anak.
5) Tujuan, pendidikan ini bertujuan pengembangan pribadi yang utuh, yang serasi baik di dalam dirinya maupun dengan lingkungan secara menyeluruh.
c. Model Pengembangan Kurikulum Melalui Pendekatan Teknologi
Pendekatan teknologis dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan bertolak dari analisis kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu.
Pembelajaran PAI dikatakan menggunakan pendekatan teknologis, bila mana yang menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan, dan menilainya.
Pendekatan teknologis ini sudah tentu mempunyai keterbatasan-keterbatasan, antara lain: ia terbatas pada hal-hal yang bisa dirancang sebelumnya. Karena dari itu pendekatan teknologis tidak selamanya dapat digunakan dalam pembelajaran PAI. kalau kegiatan pembelajaran pendidikan agama Islam hanya sampai kepada penguasaan materi dan keterampilan menjalankan ajaran agama, mungkin bisa mengunakan pendekatan teknologis, sebab proses dan produknya bisa dirancang sebelumnya.
Pesan-pesan pendidikan agama Islam tidak semua dapat didekati secara teknologis. Sebagai contoh: bagaimana membentuk kesadaran keimanan peserta didik terhadap Allah Swt., malaikatnNya, kitab-kitabNy dan lainnya. Masalah kesadaran keimanan banyak mengadung masalah yang abstrak, yang tidak hanya dilihat dari perilaku riil atau konkritnya. prinsip efisiensi dan efektivitas (sebagai ciri khas pendekatan teknologis) kadang kala juga sulit untuk dicapai dan dipantau oleh guru, karena pembentukan keimanan, kesadaran pengamalan ajaran Islam dan berakhlak Islam, sebagaimana tercantum dalam tujuan pendidikan agama Islam, memerlukan proses yang relatif lama, yang sulit dipantau hasil belajarnya dengan hanya mengandalkan pada kegiatan belajar-mengajar di kelas dengan pendekatan teknologis. Kerena itu perlu menggunakan pendekatan lain yang bersifat non-teknologis.
d. Model Pengembangan Kurikulum Melalui pendekatan Rekonstruksi Sosial
Pendekatan Rekonstruksi Sosial dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan keahlian bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat, untuk selanjutnya dengan memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooperatif, akan dicarikan upaya pemecahannya menuju pembentukkan masyarakat yang lebih baik.
Kurikulum rekonstruksi sosial disamping menekankan isi pembelajaran atau pendidikan juga sekaligus menekankan proses pendidikan dan pengalaman belajar. Pendekatan rekonstruksi sosial berasumsi bahawa manusia adalah sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya selalu membutuhkan manusia lain, selain hidup bersama, berinteraksi dan bekerja sama.
Isi pendidikan terdiri atas problem-problem aktual yang dihadapi dalam kehidupan nyata di masyarakat. Proses pendidikan atau pengalaman belajar peserta didik berbentuk kegiatan-kegiatan belajar kelompok yang mengutamakan kerja sama, baik antar peserta didik, peserta didik dengan guru/dosen dengan sumber-sumber belajar yang lain. Karena itu, dalam menyusun kurikulum atau program pendidikan PAI bertolak dari problem yang dihadapi dalam masyarakat sebagai isi PAI, sedang proses atau pengalaman belajar peserta didik adalah dengan cara memerankan ilmu-ilmu dan teknologi, serta bekerja secara kooparatif dan kolaboratif, berupaya mencari pemecahan terhadap problem tersebut menuju pembentukan masyarakat yang lebih baik.
Model pembelajaran PAI berwawasan rekonstruksi sosial dapat digambarkan di bawah ini sebagai berikut.

Gambar 1.1
MODEL PEMBELAJARAN PAI BERWAWASAN REKONSTRUKSI SOSIAL MASYARAKAT (SOCIETY)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhz8f7xnQhdeOowvu9pIl3kJxj1p8blfSL4eEk_9CCR-Ti2i1YPZXNnn939AvJFWp8-Qf3GBo5J2zm696-2v3acERniQ1LdCo61rQrn5EsTc0YyCh8ce8e5JmUe7tFmzrdQpZwcN1ToYyc/s1600/Pengembangan+Kurikulum.png








Dari gambar di atas dapat disejelaskan bahwa, peserta didik terjun kemasyarakat dengan dilandasi oleh internalisasi ajaran dan nilai-nilai Islam, yang mengandung makna bahwa setiap langkah dan tahap kegiatan yang hendak dilakukan dimasyarakat selalu dilandasi oleh niat yang suci untuk menjunjung tinggi ajaran dan nilai-nilai fundamental Islam sebagaimana yang tertuang dan terkandung dalam Al-Qur’an dan sunnah/hadis Rasulullah Saw., serta berusaha membangun kembali masyarakat atas dasar komitmen, loyalitas dan dedikasi sebagai pelaku terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam tersebut.
1. Tahap Analisis
a. GAPI dan peserta didik mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan. Hasil yang diharapkan adalah teridentifikasinya: (1) konteks atau karakteristik masyarakat yang menghadapi problem; (2) katagori permasalahan atau problem yang ada dimasyarakat; (3) tema-tema pelajaran PAI; (4) skala prioritas tema pelajaran PAI.
b. Analisis tugas. Hasil yang diharapkan adalah teridentifikasinya: (1) berbagai kebutuhan pembelajaran PAI yang mampu menyelesaikan problem yang ada di masyarakat atau kualifikasi yang diharapkan dengan hasil kinerja berdasarkan persyaratan yang tertuang dalam uraian tugas yang meliputi: pengetahuan, keterampilan, sikap dalam menjalankan tugas yang diharapkan; (2) berbagai posisi yang memerlukan dukungan pembelajaran guna memecahkan masalah yang dihadapi, seperti posisi GPAI, kelompok-kelompok peserta didik, tokoh-tokoh masyarakat, masyarakat yang menjadi subjek dan sasaran program pembelajaran PAI.
c. menentukan peserta atau siapa yang menjadi subjek dan apa sasaran program. Hasil yang diharapkan. Hasil yang diharapkan; (1) tersusunnya klasifikasi peserta; (2) kriteria peserta berdasarkan hasil penjagagan kebutuhan dan uraian tugas yang ada yang dapat mempengaruhi tingkat kedalaman tujuan, penyusunan materi, dan pemilihan metode.
2. Tahap Desain
a. Merumuskan tujuan dan target pembelajaran PAI.
b. Merancang program pembelajaran PAI (tema pokok, pendekatan dan metode, media dan sumber belajar, serta evaluasinya)
c. Menetapkan waktu dan tempat pelaksanaannya.
Pada tahap desain (a, b, dan c), hasil yang diharapkan adalah tersusunnya rencana dasar penyelenggaraan pembelajaran PAI di masyarakat yang mencakup: (1) tujuan pembelajaran PAI; (2) pokok-pokok dan sub pokok bahasan; (3) metode dan media pembelajaran; (4) kriteria dan jumlah peserta yang menjadi subjek dan sasaran pembelajaran PAI; (5) kriteria atau kualifikasi fasilitator dan jumlah fasilitator yang dibutuhkan; (6) waktu penyelenggaraan dan perincian waktu; (7) teridentifikasinya tempat penyelenggaraan; (8) jumlah anggaran biaya yang dibutuhkan; (9) komponen pendukung lainnya.
Mengembangkan dalam proposal atau TOR (Team of reference), yang berisi; (1) latar belakang/pendahuluan, yang menjelaskan berbagai permasalahan atau sense of crisis dan alasan pelaksanaan program; (2) pernyataan tujuan yang menyangkut tujuan umum atau khusus; (3) pokok-pokok bahasan materi pelajaran PAI, sehingga permasalahan dapat terpecahkan; (4) pendekatan dan metode, yakni uraian singkat tentang pendekatan dan cara bagaimana pokok bahasan akan diproses untuk mencapai tujuan; (5) fasilitator dan program, yakni kualifikasi atau persyaratan dan atau kriteria fasilitator yang dibutuhkan serta jumlah yang dikehendaki, serta menguraikan kualifikasi atau persyaratan dan jumlah peserta yang akan dikenai sasaran pembelajaran PAI; (6) komponen-komponen lain yang bersifat logistik, seperti tempat, waktu, dan lain-lainnya.
3. Tahap Implementasi
Yakni pelaksanaan program atau implementasi terhadap apa yang tertuang dalam TOR. Dlam hal ini prlu dibuat skenario pembelajran PAI, yang berisi: (1) beberapa jumlah hari yang diperlukan; (2) perincian materi dari tema pokok pembelajaran PAI yang dipelajari, dialami serta diinternalisasi oleh peserta dalam beberapa sesi; (3) perincian skenario kegiatan pembelajaran, misalnya: materi 1 tentang apa, butuh berapa sesi, topik masing-masing sesi yang merupakan penjabaran dari materi, apa kegiatan fasilitator dan peserta, berapa waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing kegiatan.
4. Tahap evaluasi dan umpan balik

Yakni evaluasi pelaksanaan programnya sehingga ditemukan titik-titik kelebihan dan kelemahannya, dan melalui evaluasi tersebut akan diperoleh umpan balik untuk diselanjutnya direvisi programnya untuk perbaikan pelaksanaan pembelajaran PAI berwawasan rekonstruksi sosial di masa yang akan datang.

Baca Juga Artikel Di Bawah Ini:

Komentar Facebook
0 Komentar Blogger
Twitter

{ 0 komentar... Views All / Send Comment! }

Posting Komentar

Ayo tinggalkan jejak anda berupa komentar disini !!! karena komentar anda sangat berarti sekali demi kemajuan blog ini.

Panduan Memberi Komentar
1.Masukan komentar anda
2.Lalu pada kata 'beri komentar sebagai' , pilih account yang anda punya, bagi yang belum mempunyai account pilih Name/url, isi nama anda dan Kosongkan URL atau isi dengan alamat facebook anda(untuk mengetahui alamat facebook anda silahkan login ke facebook dan pilih profile anda, anda dapat melihat alamat Facebook anda di atas, contoh alamat Facebook punya saya http://www.facebook.com/profile.php?id=1823916177
3.dan kemudian Publikasikan
4.Selesai dan anda tinggal menunggu komentar anda muncul
Semoga bermanfa'at.

 
Selamat Datang di www.gudangmaterikuliah.blogspot.co.id(Kumpulan Materi Kuliah Jurusan PAI/Pendidikan Agama Islam). Terima Kasih Atas Kunjungannya. Kunjungi juga website kami di www.indoking.net(Kumpulan berbagai macam informasi terlengkap,terhits dan terupdates 2016)Terimakasih.